Selasa, 11 Januari 2011

SISTEM PENILAIAN DAN RENCANA TINDAK LANJUT

Berbicara mengenai sistem penilaian yang merupakan suatu aktifitas yang menunjang serta mendukung dalam proses perkembangan suatu lembaga pendidikan, dengan adanya akan lebih terukur sampai dimana kegiatan pendidikan itu berjalan dengan baik, proses penilaian bisa menyediakan fakta- fakta dan membawa kesimpulan yang mungkin membawa perubahan maksud- maksud, putusan- putusan, dan rencana- rencana yang lebih baik dan sumbangan- sumbangan yang lebih efektif dari para anggota organisasi dalam melaksanakan rencana- rencana.

Jadi dengan menggunakan proses penilaian itu efektifitas seluruh organisasi dan tiap- tiap bagiannya bisa ditentukan. Maka makalah ini akan membahas tentang penilaian, rencana tindak lanjut yang diupayakan, prinsip- prinsip penilaian kelas, fungsi dan tujuan penilaian, manfaat dan keunggulan penilaian kelas, serta cara- cara menindak lanjuti dalam permasalahan yang dilakukan murid maupun terhadap siswa yang berprestasi.

Konsep penilaian & rencana tindak lanjut
Sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu kita memahami maksud dari penilaian itu sendiri, apa konsep penilaian dan apa itu rencana tindak lanjut?

Penilaian adalah unsur yang sangat penting dari keseluruhan proses administrasi, yang dimaksud yaitu proses yang menentukan betapa baik program- program atau kegiatan- kegiatan sedang mencapai maksud- maksud yang telah ditetapkan, yang tidak lain untuk memperoleh dasar bagi pertimbangan pada akhir suatu periode, untuk menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien, untuk memperoleh fakta- fakta tentang kesukaran- kesukaran serta menghindarkan situasi yang dapat merusak, dan untuk memajukan kesanggupan para guru dan orang tua murid dalam mengembangkan organisasi sekolah.

Evaluasi merupakan pengukuran ketercapaian program pendidikan, perencanaan suatu program substansi pendidikan termasuk kurikulum dan pelaksanaannya, pengadaan dan peningkatan kemampuan guru, pengelolaan pendidikan, dan reformasi pendidikan secara keseluruhan.

Pada kurikulum berbasis kompetensi, komponen penilaiannya dikenal dengan penilaian berbasis kelas didalamnya terdapat proses pengumpulan, laporan,dan penggunaan informasi tentang belajar siswa yang di peroleh melalui pengukuran untuk menganalisis atau menjelaskan untuk kerja atau prestasi siswa dalam mengerjakan tugas tugas terkait. Proses penilaia mecakup pengumpulan sejumlah bukti-bukti yang menunjukan hasil pencapaian hasil belajar. Penilaian berbasis kelas menggunakan pengertian penilaian sebagai ‘assesment’ yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan belajar mengajar. atau informasi dari penilaian berbasis kelas merupakan salah satu bukti yang dapat di gunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan.
• Fungsi & tujuan penilaian
• Prinsip penilaian kelas & prosedur penilaian
• Masalah-masalah murid & penyelesaiannya
• Bantuan yang dilakukan untuk mengatasi murid yang bermasalah & dorongan terhadap murid yang berprestasi.

Rencana Tindak Lanjut ( RTL)/ Langkah- langkah yang dilakukan

Maksud proses penilaian adalah untuk meningkatkan efektifitas organisasi, maka perlu untuk mencoba suatu penilaian umum tentang seluruh perbuatan organisasi dengan beberapa langkah sebagai berikut :
1. Langkah pertama dalam proses penilaian adalah pilihan dan perumusan apa yang hendak dinilai.
2. Langkah kedua yang sangat penting dalam proses penilaian ialah penetapan kriteria untuk mempertimbangkan apapun yang akan dinilai itu.
3. Langkah ketiga ialah penetapan tentang data macam apa yang benar- benar berhubungan dengan kriteria itu dan bagaimana data itu bisa dikumpulkan.
4. Langkah keempat dan terakhir ialah penetapan tentang data dalam kata- kata kriteria yan telah ditetapkan. Berikut merupakan cara- cara melakukan penilaian : Penilaian Melalui Portofolio (Portfolio), Penilaian Melalui Unjuk Kerja (Performance), Penilaian Melalui Penugasan (Proyek/Project), Penilaian Melalui Hasil kerja (Produk/Product), Penilaian Melalui Tes Tertulis (Paper & Pen)

Prinsip penilaian kelas
Untuk melengkapi tulisan lain mengenai Penilaian Kelas yakni manfaat dan fungsi penilaian kelas, dan kriteria penilaian kelas, berikut uraian tentang prinsip penilaian kelas.
Dalam melaksanakan penilaian, guru seyogjanya:
a. Memandang penilaian dan kegiatan pembelajaran secara terpadu, sehingga penilaian berjalan bersama-sama dengan proses pembelajaran.
b. Mengembangkan tugas-tugas penilaian yang bermakna, terkait langsung dengan kehidupan nyata.
c. Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian sebagai cermin diri.
d. Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pembelajaran untuk menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar peserta didik.
e. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik.
f. Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik.
g. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, proyek, dan pengamatan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran sehari-hari sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.
h. Melakukan Penilaian kelas secara berkesinambungan terhadap semua Stándar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
i. Mengadakan ulangan harian bila sudah menyelesaikan satu atau beberapa indikator. Dengan demikian tidak perlu menunggu menyelesaikan 1 KD, karena ruang lingkupnya besar.

Pelaksanaan ulangan harian dapat dilakukan dengan penilaian tertulis, penilaian lisan, penilaian unjuk kerja, atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi atau kompetensi yang dinilai. Ulangan tengah semester dilakukan bila telah menyelesaikan beberapa kompetensi dasar dipertengahan semester, sedangkan ulangan akhir semester dilakukan setelah menyelesaikan semua kompetensi dasar semester bersangkutan. Ulangan kenaikan kelas dilakukan pada akhir semester genap dengan menilai semua kompetensi dasar semester ganjil dan genap, dengan penekanan pada kompetensi dasar semester genap. Guru menetapkan tingkat pencapaian kompetensi peserta didik berdasarkan hasil belajarnya pada kurun waktu tertentu (akhir semester atau akhir tahun).

Menurut Drs, Ngalim Purwanto, Dkk , untuk melaksanakan evaluasi dalam pendidikan dengan sebaik- baiknya, setiap guru hendaknya mengetahui prinsip- prinsip sebagai berikut :
1. prinsip integritas (keseluruhan). Dalam prinsip ini untuk pelaksanaannya diperlukan bermacam- macam teknik, yang dinilai bukan hanya kecerdasan atau hasil pelajaran melainkan seluruh pribadinya.
2. Prinsip kontinuitas, karena pendidikan merupakan suatu proses yang kontinyu, maka hasil yang diperoleh di suatu waktu harus dihubungan dengan hasil- hasil penilaianpada waktu sebelumnya, sehingga dengan demikian dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang perkembangan anak didik.
3. Prinsip objektifitas, tiap penilaian harus diusahakan dilakukan seobjektif- seobjektifnya. Dalam hal ini perasaan si penilai harus dijauhkan, tidak boleh mempengaruhi penilaian, juga situasi yang dialami sipenilai jangan hendaknya mempengaruhi evaluasi yang dijalankan. Penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan semata- mata atas kenyataan yang sebenarnya.
4. Prinsip koperatif, bahwa setiap penilaian hendaknya dilakukan bersama- sama oleh semua guru yang bersangkutan. Prinsip ini sangat erat hubungannya dengan ketiga prinsip diatas.

Agar penilaian objektif, guru harus berupaya secara optimal untuk (1) memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja peserta didik dan tingkah laku dari sejumlah penilaian, (2) membuat keputusan yang adil tentang penguasaan kompetensi peserta didik dengan mempertimbangkan hasil kerja (karya) mereka, Tujuan dan Fungsi Penilaian Hasil Belajar
Tujuan Penilaian Kelas
• Penilaian kelas dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, guna menetapkan sampai sejauhmana siswa telah menguasai kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
• Penelurusan yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana.
• Pengecekan yaitu untuk mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didikdalam proses pembelajaran.
• Pencarian yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran.
• Penyimpulan yaitu untuk menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai seluruh kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum atau belum.

Fungsi Penilaian
Penilaian kelas yang disusun secara berencana dan sistematis oleh guru memiliki fungsi motivasi, belajar tuntas, efektifitas pengajaran dan umpanbalik. Kemudian fungsi yang lainnya juga :
• Sebagai alat untuk menetapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi.
• Sebagai bimbingan,
• Sebagai alat diagnosis,
• Sebagai alat prediksi
• Sebagai grading,
• Sebagai alat seleksi,
Menurut Dr. Suharsimi Arikunto mengenai tujuan dan fungsi penilaian ada beberapa hal :
1. Penilaian berfungsi selektif, dengan cara mengadakan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.
2. Penilaian berfungsi diagnostik, dengan mengadakan diagnosa kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Maka dengan demikian guru akan lebih mudah cara untuk mengatasi kelemahan dan lebih mengembangkan pribadi siswa.
3. Penilaian berfungsi sebagai penempatan, dapat menentukan dengan pasti dimana seorang siswa harus ditempatkan.
4. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan, dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana program berhasil diterapkan. Keberhasilan faktor ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem administrasi.

Kalau kita telusuri mengenai segi manfaat dan keunggulan penilaian kelas yang merupakan factor yang mendukung proses pendidikan, dilihat dari segi Manfaat penilaian kelas, yaitu: Sebagai umpan balik bagi siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya, Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa, Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar, Sebagai informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan.

Kemudian kalau dari segi Keunggulan penilaian kelas, yaitu: memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya, Prestasi belajar siswa terutama tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya, Pengumpulan informasi dilakukan dengan berbagai cara, Siswa tidak sekedar dilatih memilih jawaban yang tersedia, tetapi lebih dituntut menanggapi dan memecahkan masalah, siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya, Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM) tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses), Kriteria penilaian karya siswa dapat dibahas guru dengan para siswa sebelum karya itu dikerjakan sehingga secara tidak langsung terdorong agar berusaha mencapai harapan (expectations) (standar yang dituntut) guru.

Menurut Tim MKDK IKIP Semarang ada lima hal yang melatarbelakangi perlunya layanan bimbingan di sekolah yakni: masalah perkembangan individu, masalah perbedaan individual, masalah kebutuhan individu, masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku, dan masalah belajar
Dalam hal ini sebagai Guru harus membimbing dalam perbedaan dan permasalahan, tiap individu maupun kelompok. Sardiman menyatakan bahwa ada sembilan peran guru dalam kegiatan BK, yaitu:
1. Informator, guru diharapkan sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan, dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
2. Organisator, guru sebagai pengelola kegiatan akademik, silabus, jadwal pelajaran dan lain-lain.
3. Motivator, guru harus mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar-mengajar.
4. Director, guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5. Inisiator, guru sebagai pencetus ide dalam proses belajar-mengajar.
6. Transmitter, guru bertindak selaku penyebar kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengetahuan.
7. Fasilitator, guru akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar-mengajar. . 8. Mediator, guru sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa.
9. Evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademik maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak.

Masalah-masalah siswa

Masalah-masalah siswa yaitu: Suatu kondisi tertentu yang dialami oleh seseoarang muridf dan menghambat kelancaran prosaa belajarnya.kondisi tertentu dapat berkeneen dengan keadaan dirinya, yaitu berupa kelemahan-kelemahan yang dimilikinya dan juga dapat berkenaan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid yang terbelakang saja, tetapi juga dapat menimpa murid yang pandai atau yang cerdas.
Masalah-masalah belajar pada dasarnya dapat digolongkan atas ( kognitif/ intelektual dan afektif/ perilaku ), yaitu :
1. Sangat cepat dalam belajar, yaitu murid-murid yang tampaknya memiliki bakat akademik yang cukup tinggi, memiliki IQ 130 atau lebih, dan memerlukan tugas-tugas khusus yang terencana.
2. Keterlambatan akademik, yaitu murid yang tampaknya memiliki intelegensi normal tetapi tidsk dapat memanfaatkannya secara baik.
3. Lambat belajar, yaitu murid yang tampaknya memiliki kemampuan yang kurang memadai. Mereka memiliki IQ 70-90 sehingga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan bantuan khusus.
4. Penempatan kelas, yaitu murid-murid yang umur, kemampuan, ukuran, dan minat-minat social yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk kelas yang ditempatinya.
5. Kurang motif dalam belajar, yaitu untuk murid-murid yang kurang semangat dalam belajar, mereka tampak jerah dan malas.
6. Sikap dan kebiasaan buruk, yaitu murid-murid yang kegiatan atau perubuatannya berlawanan atau tidak sesuai dengan seharusnya seperti suka marah, menunda-nunda tugas, belajar pada saat akan ujian saja
7. Kehadiran di madrasah, yatu murid-murid yang sering tidak hadir atau yang menderita sakit dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga kehilangan sebagian besar kegiatan belajaranya.

Murid-murid seperti di atas perlu mendapatkan bantuan dari guru mereka dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan balajar mereka secara baik dan terarah. Pada gilirannya mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dalam pengajaran, Setelah guru mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar dan jenis masalah yang dialaminya, selanjutnya guru perlu mengungkapkanya mengapa masalah itu terjadi, untuk mengungkapnya, guru harus membantu bagaimana mengatasi masalah yang dialami muridnya dalam belajar, salah satunya dengan menyuruh siswa agar rajin belajar di rumah.

Menurut Abdul Majid dalam bukunya adanya empat pola tingkah laku yang sering Nampak di sekolah , antara lain:
1. Pola aktif konstruktif, yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi untuk menjadi super star di kelasnya dan berusaha membantu guru dengan sepenuh hati.
2. Pola aktif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk banyolan (gurauan), suka marah, kasar dan memberontak.
3. Pola pasif konstruktif, yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4. Pola pasif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan (sifat malas) dan keras kepala.
Namun usaha pemecahan masalah siswa dalam pengelolahan siswa merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berjalan efektif. Adapun tindakan yang seharusnya dilakukan oleh guru dibagi menjadi dua, yaitu: usaha yang bersifat pencegahan dan usaha yang bersifat penyembuhan .

Mengenai usaha yang bersifat pencegahan, dengan cara :
1. Guru selalu memiliki waktu untuk semua perilaku anak didik, baik yang mempunyai perilaku positif maupun negatif (menunjukkan sikap tanggap, terlibat secara fisik maupun mental).
2. Guru harus mampu membagi perhatian kepada semua peserta didik, baik verbal maupun non- verbal.
3. Memusatkan perhatian kelompok kepada tugas- tugasnya dari waktu ke waktu.
4. Memberi petunjuk- petunjuk yang jelas.
5. Menegur, bila menunjukkan perilaku yang mengganggu atau menyimpang.
6. Memberikan penguatan, perilaku peserta didik baik positif maupun negatif .
Adapun usaha yang bersifat penyembuhan (kuratif), langkah- langkahnya menurut Johar Permana sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi Masalah, untuk mengetahui atau mengenal masalah- masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam kelas.
2. Menganalis masalah, menganalis jenis penyimpangannya kemudian menentukan alternatif penanggulangannya.
3. Menilai alternatif- alternatif pemecahan, menilai dan memilih pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam menanggulangi masalah.
4. Mendapatkan balikan, guru melaksanakan monitoring untuk menilai pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih untuk menjadikan anak didik tahu, sadar, semata- mata hal itu untuk perbaikan, baik peserta didik maupun madrasah.
Terdapat pendapat lain mengenai Cara mengatasi sebab-sebab terjadinya masalah ada 2 tahap yang harus dilalui, yaitu:
1. Menentukan lokasi atau letak masalah
2. Memperkirakan sebab-sebab terjadinya masalah belajar

Tahap penentuan letak masalah merupakan tahap penentuan dimana sebenarnya masalah itu terjadi. Yang bertujuan untuk merubah tingkah laku murid sesuai yang diharapkan. Setelah guru mengetahui letak masalah yang sesungguhnya, guru dapat memperkirakan sebab-sebab yang dialami murid dalam belajar. Menentukan sebab-sebab ini sangatlah sukar karena masalah belajar itu sangat kompleks.
Hal ini mengandung pengertian masalah belajar dapat timbul oleh berbagai sebab yabg berlainan, contohnya: masalah belajar yang dialami oleh dua orang murid belum tentu disebabkan oleh faktor yang sama. Misalnya: dua orang murid tidak bisa membaca tulisan gurunya. Murid yang satu mungkin disebabkan menderita penglihatan vyang jauh dan yang lainnya disebabkan karena tidak menguasai tata bahasa yabg benar. Keduanya, dari sebab yang sama dapat timbul masalah yang berlainan. Sering kali pada kondisi masalah yang sama dapat dimiliki oleh seorang murid atau lebih menimbulkan masalah yang berlainan pada masing-masing individu. Uraian diatas memaparkan secara teknis langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengungkapkan sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami oleh murid.
Beberapa metode yang dilakukan Hussain Mazhariri untuk mengatasi masalah- masalah yang negatif, yaitu : bersikap tidak membedakan, perhatian dan pengarahan yang baik, menanamkan taqwa dalam jiwa, berlindung kepada Allah .

Menilai prestasi siswa

Menilai perilaku murid mulai di kelas dan dimulai oleh guru kelas. Guru mempunyai du maksud pokok untuk penilaian, yaitu : untuk mengetahui betapa baik bahan pelajaran telah diajarkan dan untuk mengetahui betapa baik bahan pelajaran telah dipelajari. Test belajar prestasi ialah alat yang banyak dipakai untuk pengukuran ini .
Satria Hadi Lubis14 urgensi memotivasi untuk tetap berprestasi, yaitu: selalu bersemangat, tekun dalam bekerja dan belajar, tidak tergantung pada motivasi dari orang lain, selalu berinisiatif dan kreatif, produktif dalam bekerja dan belajar, tercapainya tujuan yang diinginkan, meraih tujuan dengan lebih cepat, optimis terhadap masa depan, menikmati hidup dan belajar, terhindar dari kesepian, terhindar dari rasa jenuh, menunaikan kewajiban syar’I, melaksanakan sunnah Rosul, memperoleh kesuksesan dunia akhirat .

Kesimpulan
Dengan demikian proses yang menentukan betapa baik program- program atau kegiatan- kegiatan sedang mencapai maksud- maksud yang telah ditetapkan, yang bertujuan untuk menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien, untuk memperoleh fakta- fakta tentang kesukaran- kesukaran serta menghindarkan situasi yang dapat merusak, dan untuk memajukan kesanggupan para guru dan orang tua murid dalam mengembangkan organisasi sekolah dengan berbagai tindak lanjut yang beragam.

Serta tak lupa mengetahui tujuan dan fungsi dari penilaian itu sendiri dengan maksud untuk memudahkan dalam penilaian yang berupaya untuk pengoptimalan dan pengefektifan proses pendidikan di sekolah. Dengan mengetahui permasalahan- permasalahan yang terjadi pada siswa akan lebih mudah mengetahui penyimpangan- penyimpangan yang terjadi khususnya pada siswa untuk perbaikan individu maupun pihak sekolah dengan berbagai dorongan yang beragam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar