Jumat, 03 Desember 2010

IKHWAN AL-SHAFA DAN PEMIKIRAN RASIONALNYA DALAM PENDIDIKAN

Kelompok Ikhwan al-Shafa mengklaim dirinya sebagai kelompok non-partisan, objektif, ahli mencintai kebenaran, elit intelektual dan solid-kooperatif. Mereka mengajak masyarakat untuk ikut bergabung ke dalam kelompoknya yang (dengan bergabung) akan menjadi anggota kelompok orang-orang yang mulia, jujur, objektif, bermoral profetik dan bercita-cita luhur. Kelompok Ikhwan, menurut mereka, bukanlah perserikatan pengikut Setan yang hanya bertujuana memperoleh keuntungan material. Karena itu, "Wahai Saudaraku! Jadilah kamu sebagai kelompok orang-orang mukmin yang bahu-membahu untuk beramar makruf nahi munkar".
Sebagian sejarawan kontemporer menyimpulkan bahwa Ikhwan al-Shafa merupakan kelompok terorganisir, terdiri dari para filosof-moralis yang beranggapan bahwa pangkal perseteruan sosial, politik dan keagamaan terdapat pada keragaman agama, aliran keagamaan dan etnik-kesukuan dalam kekhalifahan Abbasiyyah. Mereka berusaha keras menghilangkan ragam perselisihan dan mewadahinya kedalam satu madzhab yang inklusif dan berpijak pada ajaran-ajaran yang disarikan dari semua agama dan aliran yang ada.
Dalam konteks demikian, dapat kita kemukakan bahwa kelompok ikhwan pada kenyataannya adalah organisasi yang mempunyai tujuan-tujuan politis melakukan transformasi sosial, namun tidak melalui cara radikal-revoluisoner, melainkan melalui cara transformasi pola pikir masyarakat luas. Sebab, mereka sepakat bahwa fenomena kelaliman, otoritarianisme dan tiranisme politik tidak akan kontinu kecuali akibat merebaknya kebodohan dan kelalaian mayoritas masyarakat. Dengan diubahnya pola pikir dan disadarkannya mayoritas masyarakat dari kebodohan dan kelalaian mereka, maka akan sulit terjadi kelaliman, otoritarianisme dan tiranisme.
Dalam sejarah Islam kelompok Ikhwan al-Shafa tampil "eksklusif" dengan gerakan reformatif pendidikannya. Karena itu, mereka adalah Ta'limiyyun (bermisi pengajaran) dalam melangsungkan kegiatan keilmuan politiknya. Kecenderungan ta'limiy ini, sangat tampak dalam praktek politiknya, yaitu dalam pola relasi dan organisasi antar mereka berada pada penjenjangan dakwah (penyebaran misi). Penjenjangan dakwah dan aksinya mengikuti empat pelapisan:
Lapisan pertama, kelompok remaja dan pemuda berkisar usia 15-30 tahun. Kelompok usia ini, pertumbuhan dan perkembangan jiwanya relatif masih selaras dengan fitrah. Mengingat kelompok usia ini berstatus murid, sepantasnya bila mereka mengikuti para guru mereka. Lapisan kedua, kelompok orang dewasa yang berkisar usia 30-40 tahun. Kelompok ini sudah mengetahui wisdom keduniaan dan sudah mampu menerima pengetahuan melalui "simbol". Lapisan ketiga, kelompok individu yang berkisar usia 40-50 tahun. Mereka sudah dapat mengetahui namus ilahy (Malaikat Tuhan) secara sempurna sesuai dengan tingkatan mereka. Ini adalah tingkatan para Nabi. Apabila seseorang mendekati usia 50 tahun-an, ia meningkat ke tingkatan lebih tinggi (keempat peny.) yang memungkinkannya menyaksikan realitas hakiki segala sesuatu, seperti halnya yang dimiliki para Malaikat terdekat (muqarrabun).
Dalam pola klasifikasi lain tentang jenjang dakwah kelompok Ikhwan al-Shafa, terbagi menjadi:
1. Al-Abrar al-Ruhama' (yang baik-pengasih), yaitu anggota kelompok yang berusia 15 tahun-an. Mereka mempunyai karakteristik jernih jiwa, murah hati, manis kata dan cepat paham.
2. Al-Akhyar al-Ruhama' (yang terpilih-mulia), yaitu anggota kelompok yang berusia 30 tahun-an. Mereka bercirikan concern terhadap Ikhwan, murah hati, lembut, santun dan pedili pada Ikhwan.
3. Al-Fudla' al-Kiram (yang mulia-terhormat), yaitu anggota kelompok yang berusia 40 tahun-an. Mereka ini bercirikan otoritatif, direktif dan pemersatu atas pertentangan yang ada dengan cara bijak, santun dan rekonstruktif.
4. Al-Balighun Malakutallahi (yang telah mencapai malakut Allah), yaitu anggota kelompok yang berusia 50 tahun-an. Mereka ini bercirikan kepasrahan total, keteguhan jiwa dan penyaksian langsung kebenaran.
Keistimewaan berikutnya dari kelompok Ikhwan ada pada etos keilmuannya. Mereka tidak membatasi diri hanya dengan satu sumber, melainkan mereka benar-benar mengamalkan advokasi Nabi, "Hikmah itu barang hilang orang mukmin, ia akan mengambilnya dimanapun ditemukan". Dari sini, mereka mempunyai pandangan yang luas-menyeluruh tentang sumber-sumber pengetahuan (ma'rifah). Ikhwan al-Shafa membagi sumber pengetahuan ke dalam empat dimensi:
1. Kita suci yang diturunkan, semisal Taurat, Injil dan Al-Qur'an
2. Kitab-kitab yang disusun oleh para hukama' (orang-orang bijak) dan filosof, baik berupa Matematika, Fisika-Kealaman, Sanstra dan Filsafat
3. Alam, yakni bentuk empiris (phenoumenon) segala yang sesuatu sebagaimana adanya
4. Perenungan alam semesta dan tata aturan kosmiknya, atau sering disebut substansi noumenon, ragam dan macamnya, serta kaitan fungsionalnya dengan kenyataan empiris (phenoumenon).
Selain itu, ada keistimewaan lain yang dimiliki Ikhwan al-Shafa, sebagai suatu keistimewaan yang paling menonjol. Mereka menolak fanatisme, dan berpegang pada kebebasan berpikir kritis untuk mencari kebenaran. Mereka menyeru kepada para pengikutnya agar tidak mengabaikan satu disiplin keilmuan pun, tidak bersikap antipasti terhadap satu kitab pun, atau bersikap fanatic buta terhadap madzhab tertentu. Dengan penentangan total terhadap fanatisme buta dan penerimaan penuh terhadap keterbukaan dan kebebasan intelektual, mereka mampu mempengaruhi gegerasi kurunnya untuk memahamia keragaman dan perbedaan pemikiran, serta pluraritas aliran pemikiran dalam pengembangan dinamika keilmuan dan akselerasi derap langkah kemajuan intelektual-sosialnya.
Mereka melihat bahwa dalam keragaman dan perbedaan pendapat di kalangan para ulama' dan aliran-aliran pemikiran, terkandung banyak manfaat yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat luas. Kenyataan ini erat terkait dengan adanya potensi akal pikir masing-masing manusia yang sedemikian beragam (sehingga menghasilkan produk pemikiran yang variatif), bahkan hanya Allah yang bisa menghitungnya.
Melalui empat keistimewaan, pertama, aplikasi keilmuan atas problema sosial melalui sistem pendidikan yang efektif dan berorientasi pada rekonstruksi keseimbangan ranah intelektual dan moral, dan pembebasan potensi nalar masyarakat luas. Kedua, paradigm "ta'limiy" (pengajaran) dalam agenda politiknya. Ketiga, divesifikasi sumber-sumber pengetahuan. Dan keempat, penolakan fanatisme buta, (peneguhan) paham kebebasan dan apresiasi pluralitas pemikiran sebagai hal produktif bagi dinamika intelektual dan sosial, kelompok Ikhwan al-Shafa mampu memerankan fungsi strategis dalam sejarah gerakan pemikiran Islam dan memberikan pengaruh positif yang nyata terhadapnya, bahkan para sejarawan kontemporer pun mengakui kontribusi besar yang telah diberikan kelompok ini dalam memacu perkembangan pemikiran Islam, yaitu berupa:
1. Totalitas kelompok Ikhwan dalam mengabdi untuk kehidupan intelektual di abad keempat hijriah, hingga merekalah yang paling lantang dan fasih berbicara tentang masalah ini.
2. Perintisan program penyusunan karya ensiklopedis pemikiran keislaman, yaitu dengan risalah-risalah populer mereka.
3. Pencerdasan dan pencerahan masyarakat luas melalui program pengajaran aneka ragam ilmu dan filsafat.

TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT IKHWAN AL-SHAFA
Merupakan konsekuensi logis, bila karakteristik dasar pemikiran Ikhwan al-Shafa terefleksikan dalam pandangan pendidikannya. Seperti halnya setiap pengkaji pendidikan, Ikhwan mengawali pengkajiannya dengan merumuskan tujuan-tujuan individual dan sosial yang ingin direalisasikan melalui aktivitas pendidikan. Secara nyata mereka member porsi lebih terhadap tujuan sosial dibanding tujuan individual. Ikhwan mengkritisi merebaknya pemikiran-pemikiran merusak yang banyak dianut oleh mayoritas masyarakat pada masanya.
Ikhwan al-Shafa mengkonsepsikan ilmu bukan sebagai sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri, seperti telah dikonsepsi beberapa kalangan. Menurut Ikhwan, ilmu itu harus difungsikan untuk pelayanan tujuan luhur kependidikan, yaitu pengenalan diri:
"Ketauhilah wahai saudaraku! –Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita—bahwa tujuan para filsof dan pakar mempelajari ilmu-ilmu pasti dan mengajarkannya kepada para murid adalah al-suluk (pembentukan karakter diri) dan penitian ke arah penguasaan ilmu-ilmu kealaman (Fisika), sedangkan tujuan mereka mempelajari ilmu-ilmu kealaman adalah pendakian menuju penguasaan ilmu-ilmu ketuhanan (Teologis) yang menjadi puncak tujuan para filsof dan ilmuan bijak, dan muara dari ragam pengetahuan tentang hakikat. Mengingat tahapan awal pemahaman ilmu-ilmu ketuhanan adalah pengenalan akan substansi jiwa, pengkajian perihal awal kejadiannya sebelum bersatu dengan jasad, penelaahan tentang muara akhirnya setelah berpisah dengan jasad dan tentang perihal pahala yang akan diterima orang-orang yang baik di akhirat, dan hal-hal lain; mengingat juga manusia sangat dituntut untuk mengenali (ma'rifat) terhadap Tuhannya, sementara hal ini hanya bisa diraih bila ia telah mampu mengenali dirinya sendiri, seperti difirmankan oleh Allah, "Dan tidaklah ada orang yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang tidak mengenali dirinya sendiri" (jahl al-nafs), dan seperti apa yang diungkapkan, "Barangsiapa mengenali dirinya sendiri, maka ia akan mampu mengenali (ma'rifat) Tuhannya", demikian juga ungkapan," Orang yang paling mampu mengenali dirinya sendiri, dialah orang yang paling mengenali Tuhannya", maka setiap orang yang berakal dituntut untuk mencari dan mempelajari ilmu tentang jiwa, pengetahuan tentang substansinya dan cara penyuciannya; Allah berfirman, "Demi jiwa dan apa yang Dia telah menyempurnakannya. Dia telah membekali jiwa keburukan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang mau membersihkan jiwa, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya".
Perlu diingat, keharusan manusia mengenali dirinya sendiri bukanlah suatu tujuan akhir, melainkan hanya sebagai sarana perantara menuju kesamaan dan keluhuran manusia secara umum. Sebab, tujuan pendidikan adalah peningkatan harkat manusia kepada tingkatan Malaikat yang suci, agar dapat meraih ridla Allah. Hal ini hanya bisa direalisir dengan komitmen seseorang dengan perilaku moral, sehingga ia sanggup mencapai puncak atau harakat kemanusiaan yang mendekati tingkat Malaikat dan mendekatkan diri ke haribaan Allah. Ia akan memperoleh ganjaran pahala yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata, sebagaimana diterangkan Allah, "Jiwa manusia tidak mengetahui apa yang Aku sembunyikan dari mereka berupa kesenangan sejati, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan". Proses kejadian yang dilalui manusia demikian itu berawal dari setetes air mani, kemudian segumpal darah kental yang melekat di dinding rahim, sekerat daging kenyal, janin yang sudah berupa manusia, bayi yang bergerak-gerak, anak kecil yang lincah, remaja yang gesit dan cerdas, orang dewasa yang bijaksana dan berpengalaman, orang tua yang sangat matang dan berkesadaran ketuhanan yang tinggi. Lalu, setelah ia meninggal dunia, jiwanya menjadi "makhluk" samawi yang kekal dan berbahagia dengan tiada putus-putusnya.

KONSEPSI TENTANG MANUSIA
Kelompok Ikhwan al-Shafa mempunyai pandangan ”dualistik" tentang konsep dasar manusia. Menurut Ikhwan sekiranya manusia itu tersusun dari unsure fisik-biologis dan unsure jiwa-rohaniah, maka sejatinya kedua unsur ini memilki perbedaan sifat dan berlawanan kondisinya, namun memiliki kesamaan dalam tindakan dan sifat aksidentalnya. Karena unsure fisik-biologisnya, manusia berkecenderungan untuk kekal di dunia dan hidup selama-lamanya. Sedangkan karena unsure jiwa-rohaniahnya, manusia berkecenderungan untuk meraih akhirat dan keselamatan di sana. Dengan demikian kondisi kehidupan manusia diwarnai oleh dualitas berlawanan.
Manusia berada dalam tarik-menarik antara persahabatan dan permusuhan, kefakiran dan kecukupan, kemudahan dan ketuaan, takut dan berharap, jujur dan dusta, kebenaran dan kebatilan, ketepatan dan kekeliruan, baik dan buruk, serta dualitas berlawanan dari ucapan dan perilaku moral-etik lainnya. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa bahwa manusia tersusun dari unsure fisik-biologis (jasmaniah) dan unsure jiwa-rohaniah.
Ketahuialah wahai saudaraku! Hal-hal yang dikemukakan tersebut tidaklah semata-mata berkaitan dengan unsure fisik-biologis manusia, atau semata-mata berkaitan dengan unsure jiwa-rohaniahnya, melaikan berkaitan dengan totalitas dua unsure itu yang membentuk manusia yang hidup, berpikir dan mati. Kehidupan dan kemampuan berpikir manusia dikarenakan oleh unsur jiwa-rohaniahnya, sedangkan kematiannya dikarenakan unsur fisik-biologisnya. Demikian juga tidur manusia dekarenakan unsur fisik-biologisnya, sadar-jaganya dikarenakan unsur jiwa-rohaniahnya. Singkat kata, segala persoalan dualitas berlawanan yang melingkupi kehidupan manusia, sebagiannya berasal dari unsur fisik-biologis, sebagian yang lain berasal dari unsur jiwa-rohaniah. Itu sebabnya, hal-hal semisal: kecerdasan, pengetahuan, kedermawanan, kebijaksanaan, kejujuran dan kebaikan, serta hal positif lainnya berasal dari jiwa-rohaniah yang jernih, sedangkan kebalikan dari semuanya itu berasal dari "fermentasi" anasir fisik-biologis manusia.

EPISTIMOLOGI IKHWAN AL-SHAFA
Ikhwan al-Shafa mempunyai pendapat yang berbeda dengan teori pengetahuan Plato yang menyatakan bahwa jiwa "mengetahui" dengan mengingat—ulang apa yang diperolehnya sewaktu berada di alam Ide, sebelum turun ke bumi. Di alam Ide, jiwa mengetahui banyak hal. Pada saat jiwa berpindah dari alam Ide yang bersifat rohaniah menuju alam material, ia lupa akan pengetahuan yang dulu dimilikinya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang dipelajarinya (di alam material), sebenarnya hanya bersifat mengingat-ulang pengetahuan yang dulu pernah dimilikinya (di alam Ide).
Berbeda dengan teori pengetahuan Plato, Ikhwan al-Shafa menganggap semua pengetahuan berpangkal pada cerapan inderawiah. "Banyak para pakar berpendapat bahwa pengetahuan-pengetahuan itu bertumpu pada premis-premis rasional. Mereka menganggap al-'ilm (aktivitas mengetahui) sebagai pengingat ulang, dengan berpijak pada teori pengetahuan Plato, padahal sebenarnya tidaklah seperti itu. Argumentasi keabsahan pendapat kami adalah, bahwa segala sesuatu yang tidak dijangkau oleh indera, tidak dapat diimajinasikan, dan segala sesuatu yang tidak bisa diimajinasikan, maka tidak bisa "dirasiokan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar